Delayoe’s Blog

Tidak Akan Pernah Ku Lupain Deh…

Posted by: delayoe on: April 8, 2009

Waktu itu 11 hari sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir), aku bilang ke suami ” mas besok kita periksa ke Dr. Novi ya??”. Suami ku bilang iya, tp siang aja periksanya. Besoknya, tgl 5 mei tepatnya sebelum sempat periksa, kalau gak salah waktu itu masih jam 5 subuh aku terbangun, tapi begitu kagetnya aku karna ku liat tempat tidurku basah, ternyata aku mengeluarkan banyak air, yang lebih membingungkan air itu keluar begitu saja dan gak bisa ditahan layaknya air kencing. Aku bangunin suami, “mas, mas.., coba liat ade kok basah?? Dy mencium tempat tidur, mungkin dy kira aku ngompol kali (sebel juga dalam hati). “Ade kencing kah??”, ku jawab “gak, gak tau mas airnya keluar terus gak bisa ditahan”, Dengan agak bingung, eh.. suami ku malah baring lagi, huh…!!

Ywdah aku datang ke ibuk, “buk aku kok basah, kluar air terus??” kata ibuk “kamu sakit??”, kujawab “Gak”, “ywdah gak papa” kata ibuk. Setelah itu aku mandi, sholat subuh, selesai sholat subuh aku jalan pagi sebentar, terus beli sayur, masak, cucian, ya.. karna aku gak merasakan sakit, jadi ku kerjakan kegiatan rutin ku, pastinya air masih keluar terus malah tambah banyak. Sudah selesai semua pekerjaan aku bangunin suami untuk pergi ke rumah sakit dirgahayu, sebelumnya aku menghubungi Dr. Novia, Dy menganjurkan untuk segera ke rumah sakit saja, karna dy lagi di luar kota jadi gak praktek dulu.

Aku ke rumah sakit tanpa membawa perlengkapan apapun, sampainya di rumah sakit, suami ku daftar dan langsung saja menunggu giliran. Begitu masuk untuk periksa, aku bilang kalau subuh sudah kluar air, suster langsung menganjurkan untuk rawat inap dan USG. Aku dan suami bergegas menuju ruang melahirkan, suami ku memberikan surat pengantar dari Dr. Novia, karna si Dr. lagi di luar kota alhasil aku harus memilih Dr. lain, ku putuskan memilih Dr. rumah sakit dirgahayu yaitu Dr. Deince. Sambil menunggu Dr, aku dan suami juga ikut, diajak ke kamar bersalin. Ku pikir ngapain ya kesini, kan aku blum mau melahirkan lagipula gak ada rasa sakit sedikitpun. Ternyata si suster mau liat pembukaan, aku berbaring, suster meminta aku untuk membuka kaki agak lebar, duh.. aku merasakan sakit, sakit.. sekali waktu si suster memasukkan (gak tau cuma jari atau tangannya), karna gak tahan aku sampai nangis, suami ku datang memegang tangan berusaha mengurangi rasa sakit ku, sedikit berkurang sakitnya dan nyaman.. sekali di dekat suami. Berulang kali suster melakukan itu, akhirnya selesai juga dan dy bilang masih pembukaan 2. Aku diminta kluar dan berbaring di tempat tidur, sambil menunggu Dr.

Gak lama Dr. datang dan memeriksa, waktu dy ngeliat perut ku, dy bilang ini lingkaran bandel, perut ibu keras sekali, ibuk gak sakit?? kujawab “gak Dok”. Wah hebat, seharusnya ini sakit sekali lo buk. Bener juga seh, aku merasa agak aneh dengan perut ku, kebanyakan perut orang yang mau melahirkan itu turun ke bawah, tapi perut ku malah naik keatas pas dibawah payudara, dari pusar ke bawah sudah kosong dan perut ku keras sekali seperti batu. Kata Dr. aku harus USG, setelah menunggu beberapa antrian aku masuk untuk USG dan tentunya suami ku juga ikut. Menurut cerita suami di dalam perut ku sudah gelap dan bayiku seperti terjepit. Selesai USG Dr. bilang kalau harus operasi, deg.. aku kaget banget, hal yang selama ini, yang setiap malam di saat hamil tua aku selalu bilang ke suami kalau takut operasi waktu melahirkan, sekarang aku dengar dan aku juga harus menjalani itu pastinya, duh.. aku takut!! Aku bertanya ke Dr. “Dok apa bisa normal saja melahirkannya??” Dr. bilang gak bisa, “kemungkinan bayinya selamat sangat kecil kalau persalinannya normal”, lagipula juga bahaya buat ibu karna kalau bayinya turun ke jalan lahir, rahim ibu bisa robek. Dr langsung memberi surat persetujuan yang harus ditanda tangani, dengan agak lemes aku kembali ke tempat sebelumnya. Sambil berunding dengan suami dan mempertimbangkan banyak hal aku mengambil keputusan setuju untuk di operasi. Aku memberi kabar ke orang tua dan meminta mereka datang membawa perlengkapan ku dan calon bayiku. Waktu itu gak ada lagi yang ku pikirkan selain keselamatan bayi ku, aku hanya terus berdoa.

Daripada menunggu tanpa berbuat apa-apa, aku pengen makan dan mandi, tapi aku sudah harus puasa dan suster datang untuk memasang infus dan selang kencing. Ini dy yang paling aku takutin, dipasang infus, ternyata malah gak sakit, yang agak sakit malah dipasang selang kencing . Setelah dipasang selang kencing aku merasakan sakit di perut yang sebelumnya gak ku rasakan, disaat istri merasakan sakit seperti ini peran dan support suami sangat penting, karna cuma itu yang bisa mengurangi rasa sakit dan menenangkan. Beruntung aku gak lama-lama merasakan sakit karna dari beberapa orang yang akan dioperasi, aku yang didulukan. Di perjalanan menuju ruang operasi perasaan ku semakin gak karuan, takut, gugup, dan yang gak aku tau kenapa seluruh badan gemetaran dan gak bisa di tahan.

Suami ku hanya mengantar sampai depan ruang operasi, sebelum aku masuk dy mencium keningku yang itu bisa membuat aku tenang. Tapi ketenangan itu berakhir ketika aku di dalam ruang operasi, aku semakin gemetaran dan takut, sementara itu semua yang ada di ruangan itu gak ada yang menenangkan aku, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dr meminta aku duduk, entah apa yang dy lakukan di punggung ku yang pasti aku gak merasakan sakit sedikitpun. Setelah aku berbaring, mereka menyiapkan peralatan di samping perutku, aku mencoba menggerakkan kakiku dan masih bisa bergerak, ketakutan semakin ku rasakan. Aku bilang ke Dr, Dok kaki saya masih bisa digerakkan, Dr bilang “iya bu gak papa, tenang ya bu”.

Lanjut ntar lagi ya, my baby bangun tuu…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.